Sabtu, 31 Januari 2009

Feromon Untuk Masa Depan

judul asli:Fakta tentang Feromon

Oleh Kristy Iskandar

Senyawa kimia yang kuat ini telah diidentifikasi pada ngengat, gajah dan ikan, ungkap Tristam D. Wyatt. Akan tetapi, berlawanan dengan cerita populer yang sering dimuat di media massa, kita masih berusaha untuk dapat mengisolasi feromon dari manusia..

Lima puluh tahun yang lalu, Peter Karlson dan Martin Luescher mengajukan nama baru untuk senyawa yang digunakan sebagai alat komunikasi antar individu pada spesies yang sama; yaitu feromon. Feromon (Pheromone) berasal dari bahasa latin; pherein yang artinya memindahkan, dan hormone yang artinya mencetuskan. Sekilas feromon mempunyai bunyi yang sama dengan hormon, untuk menekankan arti bahwa feromon memang mempunyai beberapa kemiripan dengan hormon. Feromon seperti laiknya hormon bersifat spesifik dan aktif dalam hitungan menit. Definisi feromon adalah senyawa yang disekresikan oleh satu individu dan diterima oleh individu lain pada spesies yang sama, di mana mereka akan memberikan reaksi yang spesifik, seperti misalnya perubahan perilaku atau proses perkembangan dan pertumbuhan.

Sejak saat itu, feromon telah ditemukan di berbagai spesies, berfungsi mengirim sinyal pada lobster, anak kelinci yang sedang menyusu, dan pembangunan sarang dan menyusuri jejak yang dilakukan semut. Feromon juga diproduksi dan digunakan pada ganggang, jamur, sel bersilia dan bakteri.

Feromon seks pada ikan, akan menarik ikan jantan dari betina yang akan bertelur. Pejantan yang paling sensitif akan datang terlebih dahulu. Pada beberapa jenis anggrek, diproduksi feromon yang menyerupai feromon yang disekresi kumbang betina, untuk menarik kumbang jantan untuk membantu proses penyerbukan. Identifikasi dan sintesis feromon telah memberikan berbagai keuntungan, misalnya sebagai cara paling ramah lingkungan dalam mengontrol hama . Feromon dapat digunakan untuk menggiring hama ke dalam jebakan ataupun membingungkan pejantan sehingga mereka tidak dapat menemukan betinanya. Sifat spesifitas yang tinggi dan toksisitas yang rendah berdampak utuhnya ekosistem.

Feromon ini juga terdapat pada mamalia. Pada tahun 1996, ditemukan bahwa feromon sex pada gajah adalah sebuah molekul kecil-(Z)-7-doddecen-1-yl acetate- yang juga terdapat pada ngengat. Gajah dan tikus mensekresikan feromon mereka pada protein urin.

Bagaimana dengan manusia? Sebagai bagian dari mamalia, kita sepertinya juga memiliki feromon. Ketiak merupakan kandidat utama, karena bau ketiak berkembang sejalan dengan pubertas. Bagaimanapun, perilaku manusia dan emisi senyawa kimia yang dihasilkan tubuh manusia begitu kompleks untuk diteliti. Sejauh ini, tidak ada satu pun feromon yang diidentifikasi, walaupun kata feromon telah begitu populer. Salah satu kandidat terkuat adalah sebuah senyawa dari ekstrak ketiak wanita yang tampaknya menyebabkan sinkronisasi menstruasi pada wanita yang tinggal berdekatan pada lingkungan yang sama. Identifikasi senyawa tersebut benar-benar ditunggu, setidaknya senyawa tersebut potensial memberikan harapan untuk pembuatan kontrasepsi yang dapat dihidu (dibaui).

Disarikan dari:

Wyatt, T.D. Fifty years of pheromones. Nature 457, 262-263

http://www.nature.com/nature/journal/v457/n7227/full/457262a.html
diambil dari http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=252

3 komentar:

  1. tapi jgn lupa tulis sumbernya, mari kita galakkan anti copy paste sembarangan...bravo

    BalasHapus