Jumat, 24 Mei 2013

Ketika Malaikat Pergi dan Nafsu Buruk Mendominasi



Duduk termenung mendengarkan kata hati. Sejenak bayangmu menghiasi sore ini. Baru beberapa hari ketika aku melihatmu tersenyum ceria. Raut wajah yang natural terhias dalam eloknya pesonamu yang rumit. Saat engkau berlenggak-lenggok berjalan girang, tiba-tiba menyapaku. “Mas Adiiin!” Suaramu terlihat merdu meski cempreng dan fals. Aku terhibur dalam denyut yang nyaman. Candu menggelegak membuka urat nadi untuk menyalurkan darah dengan cepat.

Sekarang ini aku hanya bisa merasakan kehadiranmu dalam imajinalku yang sulit. Terbatas pada angan yang kias. Kerinduan seorang perindu untuk merindukan sosok yang dirindu. Kepasrahan yang tiada pasrah untuk memaksakan pasrah atas kepasrahan yang berpasrah. Dug..dug..dug bunyi jantung pertanda imajinalku adalah realitas. Ya, saya
merindukanmu.

Perlukah aku tanyakan secara langsung padamu untuk memastikan perasaanku natural kepadamu? Ataukah kamu tiada berfikir sedikit padaku? Atau dirimu tak faham denganku? Dirimu sendiri tak faham denganmu kan? Jika hanya sebatas hitungan hari yang dapat dihitung jari kita bertemu, jika hanya beberapa jam diantara puluhan jam dalam satu hari kita berpapasan, jika hanya beberapa detik diantara ratusan detik dalam satu jam kita berinteraksi, lalu apakah itu cukup untuk memaksamu untuk merasakan sama seperti yang aku rasakan. Aku dan kamu seperti bumi dan matahari. Bumi sangat bergantung untuk merasakan kasih sayang matahari. Sedangkan matahari cukup angkuh untuk mengatakan,” aku tak butuh bumi”. Kini aku ingin berbicara padamu empat mata. Orang pandai hanya perlu sekedar membaca tanda-tanda.

Ketika kau melihat dirimu dengan orang lain bertahta relasionalistik. Rasioku mengajakku untuk jahat. Jika kamu mencari seutas pita yang kau sambung dengannya, maka aku akan ambil gunting untuk segera memutusnya. Jika kamu memberi senyum padanya akan aku bawa masker untuk mulutmu. Aku bisa jahat karenamu. Aku bisa ajak konspirasi mematahkan dia. Ingat, aku masih punya hak merubah takdir meski keputusan ditanganNya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar