Jumat, 19 September 2014

Menakar Urgensi Realisasi PLTN

Baru-baru ini media elektronik mulai mengangkat diskursus energi sebagai respon acara diskusi “Mengenal Lebih Dekat Iptek Nuklir” di Bogor di Favehotel, Bogor, Sabtu 13 September 2014. Dalam diskusi tersebut Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menyinggung rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan dilakukan di masa pemerintahan Jokowi. Ia mempertanyakan ketidak jelasan sikap pemerintah terkait kebijakan mempertahankan subsidi BBM sampai saat ini.
 
Padahal alokasi subsidi BBM yang sekitar Rp300 triliun itu dapat digunakan untuk membangun enam PLTN komersial. Dari pernyataan Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto tersebut menampilkan reaksi kritis masih minimnya support pemerintahan terdahulu terkait pembangunan PLTN. Di sisi lain terdeteksi harapan kepada presiden terpilih Joko Widodo untuk mengaplikasikan energi nuklir melalui pembangunan PLTN. Meninjau data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia pada tahun 2024 akan mengalami krisis energi listrik, karena membengkaknya jumlah penduduk Indonesia.

Aktivitas konsumsi energi listrik nasional menjadi refleksi untuk memilih sumber produksi energi yang lebih efisien dengan visi ekologi yang baik. Sayangnya sektor energi listrik selama ini masih bergantung pada dominasi penggunaan bahan bakar batu bara disamping pemanfaatan tenaga air dan panas bumi dalam skala minoritas. Sebagai tawaran solusi perkembangan teknologi nuklir menjawab dalam bentuk pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Pemanfaatan PLTN di Indonesia merupakan horizon pemikiran strategis dan futuristik. Diantaranya merupakan langkah konservasi energi, intensifikasi untuk memperoleh hard currency dan fosil untuk feed stock, diversifikasi energi dalam bentuk energi listrik dan efek keberlanjutan (memperpanjang ketersediaan fosil, kogenerasi menghasilkan “EOR”, “Coal Liquefaction & Gasification”, “H2 Production”, “Desalination”). Belum lagi environment value sebagai energy resources yang ramah lingkungan dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GHC) secara signifikan.

 Perbandingan efisiensi fisi nuklir dengan batu bara sangat signifikan. Satu kilogram fisi nuklir menghasilkan 50.000 kWh sedangkan satu kilogram batu bara menghasilkan hanya 3kWh. Jika diasumsikan satu tahun untuk energi listrik 1000 mWe membutuhkan 2.600.000 ton batu bara, maka dengan kebutuhan energi listrik yang sama hanya dibutuhkan 30 ton fisi nuklir. Nilai efisiensi energy ini pun selaras dengan kekayaan Indonesia akan sumber fisi nuklir. Data dari Batan menyebutkan sekitar 60 ribu ton kandungan uranium dengan dominasi di daerah Kalimantan. Sepuluh wilayah di Kalimantan tersebut terdiri dari 1608 ton kategori terukur, 6456 ton kategori terindikasi, 2.648 ton teraka dan 14,727 ton hipotetik.

 Sebagaimana diketahui dulu pernah terjadi kebocoran reaktor nuklir di Jepang pasca tsunami 2011. Kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi ini dijadikan justifikasi bahwa PLTN tidak layak bangun di tanah air, seakan-akan seluruh wilayah tanah air berpotensi dilanda tsunami membahayakan. Hal ini menimbulkan berbagai perdebatan sengit terkait penerapan PLTN di tanah air. Beberapa pejabat penentu kebijakan pun pesimis dihantui ketakutan akan bahaya kebocoran. Penulis pernah berdiskusi dengan salah satu professor riset PTABP BATAN Yogyakarta, Agus Taftazani terkait isu tersebut. Menurut beliau perkembangan teknologi PLTN dunia sudah safety sekaligus sudah dapat menjawab tantangan untuk diaplikasikan di lingkup teritorial Indonesia. Perlu diketahui bahwa ternyata kebocoran reaktor nuklir yang terjadi di Jepang, adalah terjadi pada reaktor generasi lama. Reaktor generasi baru yang satu kawasan dengan reaktor lama tidak terjadi kebocoran. Reaktor ini mati secara otomatis dan sistem pendinginan berjalan dengan lancar saat terjadi gempa.

Perkembangan reaktor nuklir dari generasi ke generasi sudah sampai pada generasi IV atau traveling wave reactor (TWR) yang modern dan sangat aman. Menurut ilmuwan nuklir Batan Yudiutomo Imardjoko, reaktor generasi ke-4 ini memiliki beberapa keunggulan seperti penggantian bahan bakar setiap 60 tahun sekali, sistem pendingin yang tidak perlu sentuhan manusia saat terjadi bencana, sampai tidak ada limbah, dan menghasilkan energi yang murah.

Pada tingkat aplikasi International Atomic Energy Agency (IAEA) mencatat 437 reaktor nuklir masih beroperasi sampai sekarang. Seratus diantaranya tersebar di Amerika. Di Indonesia sendiri juga telah berdiri tiga buah reaktor riset di Indonesia, reaktor TRIGA Mark II di bandung, reaktor Kartini di Yogyakarta, reaktor GA. Siwabessy di Serpong. Meskipun Pulau Jawa memiliki take record gempa bumi dari aktifitas gunung berapi, namun ketiga reaktor riset tersebut masih berdiri ‘gagah’ dan masih aman-aman saja sampai sekarang. Masih pesimis?

Ahmad Safarudin, 


 Pernah Praktik Kerja Lapangan di PTAPB BATAN

3 komentar:

  1. salam hangat dari kami ijin menyimak gan, dari kami penrajin jaket kulit

    BalasHapus
  2. bro... kapan bisa privat modiv blogku :(

    BalasHapus
  3. wah. keren bahasanmu bro. sehat n sukses selalu..*ala Rukan

    BalasHapus